Melajukan Karya Seluas Langit

Judul Buku: Biografi Imam Syafi’i: Kisah Perjalanan dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid Penulis: Dr. Tariq Suwaidan Penerjemah: Iman Firdaus Lc,Q. Dipl. Penerbit: Zaman, Jakarta Cetakan: I, 2011 Tebal: 312 halaman Harga: Rp. 45.000,00

131682177513419610561

Buku ini mengisahkan tentang riwayat Imam Syafi’i sejak lahir sampai meninggalnya pada tahun 204 Hijriyah. Dr. Tariq Suwaidan berupaya menyuguhkan kisah hidup Imam Syafi’i selengkap dan semenarik mungkin. Jika pun ada yang mungkin terlewat, ikhtiar penulis buku tetaplah layak diapresiasi. Dr. Tariq Suwaidan telah mencatatkan diri sebagai salah satu penulis biografi ulama yang lahir pada 150 Hijriyah itu.
Membuka lembaran demi lembaran buku ini, kita tentunya akan melihat lebih jelas dan menyelami lebih dalam tentang Imam Syafi’i. Banyak hal coba dikupas penulis buku terkait Imam Syafi’i, baik kepribadian, perjalanan hidup, pendapat maupun pemikirannya. Untuk mengenal lebih jauh tentang Imam Syafi’i, Dr. Tariq Suwaidan juga melengkapi buku ini dengan pernyataan-pernyataan tokoh. Berikut beberapa pernyataan tokoh yang dikutip oleh penulis buku:
Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Syafi’i membagi malamnya ke dalam tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat, dan sepertiganya lagi untuk tidur.” Ia juga berkata, “Aku menginap di rumah Syafi’i untuk beberapa malam. Kulihat Syafi’i tidak tidur di malam hari kecuali hanya sedikit.”

Bahar ibn Nashar berkata, “Di zaman Syafi’i, aku tidak pernah melihat dan mendengar ada orang yang lebih bertakwa dan wara’ dari Syafi’i, tidak pula yang lebih baik suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an dari Syafi’i.”

Diriwayatkan dari al-Karabis, ia berkata, “Aku menginap di tempat Syafi’i selama delapan puluh malam. Ia selalu shalat sepertiga malam, dan aku tidak melihatnya membaca Al-Qur’an lebih dari lima puluh ayat. Jika ia menambahnya, ia hanya membaca sampai seratus ayat. Setiap ia membaca ayat rahmat, ia langsung memohon kepada Allah untuk dirinya dan kaum mukmin. Ia tidak membaca ayat azab kecuali ia bergegas meminta perlindungan kepada Allah darinya, memohon keselamatan untuk dirinya dan kaum mukmin. Seakan ia menghimpun rasa takut dan harap pada dirinya secara seimbang dan beriringan. “(halaman. 78-79).

Ahli bahasa dan sejarah, Abdul Malik ibn Hisyam, penulis Sirah Ibni Hisyam, menuturkan, “Pergaulan kami bersama Muhammad ibn Idris al-Syafi’i berlangsung cukup lama. Aku tidak pernah mendengar kesalahan sedikit pun dari Syafi’i dalam ungkapan, tidak juga mendengar satu kalimat yang lebih baik dari ungkapan-ungkapan Syafi’i.”(halaman. 102).

Al-Za’farani berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih dan alim dari Syafi’i. Ia adalah manusia yang paling alim dan paling fasih. Setiap syair-syair dibacakan di hadapannya, ia langsung mengenalinya.”(halaman. 103).

Abu Manshur al-Azhari, salah seorang tokoh dan pemimpin di bidang bahasa, menuturkan, “Aku banyak menelaah karya para ulama di negeri ini. Kudapati karya Syafi’i lebih luas dan lebih banyak kandungan ilmunya. Ia adalah orang yang paling fasih berbahasa dan paling luas cakrawala ilmunya.”(halaman. 104).

Al-Fudhail ibn Dakkain berkata, “Tak pernah kami lihat dan dengar tentang orang yang lebih sempurna akalnya, lebih baik pemahamannya, dan lebih luas ilmunya dari Syafi’i.”

Abu Tsur menuturkan, “Siapa yang mengaku bahwa ia pernah melihat orang seperti Muhammad ibn Idris dalam hal ilmu, kefasihan, dan konsistensi, berarti ia telah berdusta. Sungguh Syafi’i tiada bandingannya di masa hidupnya. Ketika ia telah pergi, tak ada yang mengalahkannya dan tak ada yang menyainginya.”

Sufyan ibn ‘Uyainah, salah satu guru Syafi’i, berkata, “Ketika dibacakan sebuah hadits tentang kelembutan di hadapannya, Syafi’i langsung pingsan. Ada yang menyangka bahwa ia meninggal dunia. Jika ia meninggal, berarti orang yang paling utama di zamannya telah pergi.”

Abu Manshur al-Azhari menuturkan, “Aku telah mengaji semua kitab yang dikarang oleh para ahli fikih negeri-negeri Islam. Kulihat kitab Syafi’i paling utama ilmunya, paling fasih, dan paling luas wawasannya.”

Ahmad ibn Hanbal berkata, “Tak ada orang yang paling sedikit salahnya saat berbicara tentang ilmu dan lebih banyak mengambil sunnah Rasulullah SAW dari Syafi’i.” Ia juga berkata, “Aku tidak menemukan orang yang lebih fasih dan lebih paham tentang ilmu dari Syafi’i.”

Ishaq ibn Rahawiyah berkata, “Syafi’i adalah imam para ulama. Tak ada orang yang mengandalkan ra’yu (nalar) kecuali Syafi’i lebih sedikit kesalahannya dari orang itu. Syafi’i betul-betul seorang imam.”(halaman 286-287).

Dari beberapa pernyataan di atas, kita seakan-akan langsung bisa mengetahui kebesaran dan kemuliaan Imam Syafi’i. Buku karya Dr. Tariq Suwaidan ini bisa melengkapi kajian dan telaah kita terkait sosok dan pemikiran Imam Syafi’i. Selamat membaca.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

 http://www.penerbitzaman.com/code.php?in…

September 28th, 2011 at 07:41 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Salat Idul Fitri 1432 H dilaksanakan di Indonesia tidak bersamaan. Ada yang melaksanakan Selasa (30/8), ada yang melaksanakan Rabu (31/8). Sidang itsbat yang diselenggarakan Kementerian Agama RI pada Senin (29/8) memutuskan 1 Syawal 1432 H jatuh pada 31 Agustus 2011. Perbedaan ini tentu tidak perlu dipertentangkan, karena masing-masing pihak yang memberikan ketetapan memiliki dasar dan pijakan. Pelaksanaan salat Idul Fitri yang berbeda juga berdampak pada kegiatan takbiran. Ada yang menggelar pada Senin (29/8) malam, ada yang mengadakan pada Selasa (30/8) malam.
Kegiatan takbiran usai Ramadan di berbagai daerah sebagaimana kita saksikan berlangsung semarak. Tak terkecuali dengan kegiatan takbiran yang diadakan Masjid Al-Husna, Kelurahan Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, Salatiga. Awalnya kegiatan takbiran telah dipersiapkan pada Senin malam. Setelah keputusan pemerintah cq Kementerian Agama diumumkan, kegiatan takbiran dibatalkan dan diganti pada Selasa malam. Kegiatan takbiran di tempat ini bisa dikatakan berlangsung luar biasa. Ada sekitar 175-an anak-anak dan remaja begitu bersemangat mengumandangkan takbir dengan iringan suara musik khas berasal dari bambu, kaleng, kentongan, rebana, dan sebagainya. Mereka sendiri yang memainkan alat musik itu.
Berawal dari masjid, anak-anak dan remaja dengan didampingi orang tua masing-masing bertakbir mengeliling desa. Tanpa letih, anak-anak dan remaja mengumandangkan takbir menyambut Idul Fitri. Usai keliling, mereka istirahat dan makan ketupat opor yang telah dipersiapkan. Setelah itu kegiatan takbiran dilanjutkan lagi di masjid sampai tengah malam. “Hati kami bahagia, luar biasa tadi, bertakbir mengagungkan kebesaran Allah SWT,” ungkap Saptorini Hinonah, salah satu pengurus masjid, seusai kegiatan takbiran.
Motivasi dan spirit anak-anak dan remaja menyemarakkan malam takbiran di wilayah ini layaklah diapresiasi. Saptorini Hinonah yang juga menjadi Kepala Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Syifaauna dan guru di SMA Muhammadiyah Salatiga mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka telah berlatih terlebih dahulu agar kompak memainkan alat musik. Khusus anak-anak, pada bulan Ramadan juga telah dimotivasi untuk berpuasa. Anak-anak bisa jujur mengatakan kalau hanya puasa setengah hari atau tidak berpuasa. Hal itu tetap harus dihargai. Bagi anak-anak, kebiasaan puasa perlu ditanamkan tanpa tekanan. Anak-anak itu pun tampak bergembira dan berwajah ceria di malam takbiran.
HENDRA SUGIANTORO

Agustus 31st, 2011 at 13:28 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

251076_229840917026541_100000019048828_1012273_3357189_n

“……hujan tidak memihak siapa yang memujinya, siapa yang memujanya, siapa yang memakinya, siapa yang merutukinya. Tetapi, manusianya saja yang membuat peran hujan itu. Sebagai lakon yang baik atau jahat tergantung pikiran kita masing-masing……”(VICO LUTFHI IPMAWAN, dalam buku MENGALIR BUKAN AIR: Percikan Spirit Hidup. Terbit di LeutikaPrio, Juni 2011.)

“……Rayap merupakan hewan yang hidup berkoloni. Mereka bersama-sama pula membangun rumah idaman, membangun rumah dengan menggunakan lumpur dan ludahnya. Rumah yang mereka bangun kira-kira setinggi tiga sampai empat meter. Ya, laksana gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota-kota besar. Dahsyat!….”(MEITA WULAN SARI, dalam buku MENGALIR BUKAN AIR: Percikan Spirit Hidup. Terbit di LeutikaPrio, Juni 2011.).

“……Apabila dipahami secara lebih luas, apapun peristiwanya, di mana pun terjadinya, kapan pun berlangsungnya, Allah SWT tetap mencurahkan kasih sayang-Nya. Melalui bencana, Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya untuk membangkitkan kesadaran transendental kita……”(IMAROH SYAHIDA, dalam buku MENGALIR BUKAN AIR: Percikan Spirit Hidup. Terbit di LeutikaPrio, Juni 2011.)

Buku ini bisa dipesan di www.leutikaprio.com atau via SMS ke 0821 38 388 988. Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- GRATIS ONGKOS KIRIM seluruh Indonesia. Met Order. Terbit di Leutika Prio!!!

Juni 9th, 2011 at 12:05 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

DALAM masa penjajahan kolonial Belanda, kita mengenal satu sosok bernama Douwes Dekker. Ia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879, dengan nama lengkap: Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Pada 25 Desember 1912, ia mendirikan sebuah organisasi Indische Partij bersama beberapa kawannya. Pada 28 Agustus 1950, ia meninggal dunia.

Ada catatan menarik mengenai jejak pers Douwes Dekker. Jika selama ini kita mengenal sebuah terbitan De Express yang dikelola Douwes Dekker, maka sebelumnya Douwes Dekker telah menerbitkan sebuah surat kabar berbentuk majalah. Catatan menarik ini dipaparkan Rosihan Anwar dalam buku berjudul Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Juli 2009). Dengan referensi buku karya Kees van Dijk berjudul The Netherlands Indies and the Great War, 1914-1918 (KITLV Press, Leiden 2007), Rosihan Anwar memaparkan bahwa Douwes Dekker mendirikan majalah yang terbit dua kali sebulan pada tahun 1911 di Bandung. Majalah itu diberi nama Het Tijschrift. Setahun berikutnya didirikan surat kabar harian De Express.

Dalam Het Tijschrift dan De Express, Douwes Dekker menyebarkan gagasan politiknya yang militan, menyerukan oposisi aktif melawan ketidakbecusan masyarakat kolonial. Tulisannya berisi hal-hal yang menggusarkan pemerintahan kolonial Belanda. Dalam Het Tijschrift (Februari 1913), Douwes Dekker mengatakan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme merupakan suatu kewajiban moral. Suatu pemerintah kolonial harus ditentang. Betapa pun ramahnya wajah yang diperlihatkannya, kolonialisme tetap merupakan suatu sistem berdasarkan ketidaksamaan keadaan di mana mereka yang lahir sebagai penguasa tidak akan pernah mau menyerahkan hak-hak istimewanya (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Juli 2009), hlm. 28).

Dari paparan di atas, Douwes Dekker bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh yang menggunakan Het Tijschrift dan De Express sebagai alat perjuangan. Pada masa pergerakan nasional, pers memang telah menjadi senjata mewujudkan kesadaran nasional dan kemerdekaan.

Douwes Dekker merupakan saudara sepupu dari Multatuli, pengarang novel Max Havelaar. Pada masa Indonesia merdeka, ia berganti nama menjadi Dr. Danudirdjo Setiabudhi. Ia pernah menjadi menteri negara pada masa kabinet Amir Sjarifoeddin (1947) di zaman Soekarno.



Hendra Sugiantoro

Selasa, 19 Oktober 2010

Nopember 19th, 2010 at 00:05 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

SEBAGAI salah satu gunung yang aktif, letusan Gunung Merapi telah terjadi semenjak berabad-abad lampau. Pada tahun ini, letusan Gunung Merapi kembali terjadi. Banyak yang menyebutkan letusan pertama Gunung Merapi terjadi pada tahun 1006, namun tahun 1006 sebagai awal meletusnya Gunung Merapi masih menimbulkan perdebatan hingga kini. Terlepas dari itu, Gunung Merapi memang telah menghadirkan fenomena.

Dari sejarah meletusnya Gunung Merapi, ada catatan menarik pada letusannya pada tahun 1930. Pada saat itu, dunia tengah menghadapi zaman krisis yang kerap disebut zaman malaise. P. Swantoro dalam bukunya Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu menuturkan, “Pada awal masa malaise itu, pada 18 Desember 1930, terjadilah suatu bencana besar di Jawa Tengah: Gunung Merapi meletus! Tidak kurang dari 1.500 orang tewas dan 2.500 hewan mati. Berhektar-hektar sawah serta ladang hancur, dan ratusan rumah terbakar atau roboh.” (P. Swantoro, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan I 2002), hlm. 36). Apa yang dipaparkan P. Swantoro itu terdapat dalam laporan G. Vriens di majalah Claverbond tahun ke-43, 1931, halaman 85-109. Laporan G. Vriens tentang letusan Gunung Merapi pada tahun 1930 diberi judul “De Merapi”.

Apa yang dialami masyarakat pada tahun 1930 tentu sangat memprihatinkan karena saat itu kondisi kehidupan memang lagi sekarat akibat krisis global. Kehidupan penduduk yang telah mencekam pun kian bertambah mencekam ketika sumber penghidupan luluh lantak. Apa yang dialami masyarakat pada tahun 1930 tentu tak persis dengan kondisi pada tahun 2010. Namun demikian, kita perlu memiliki kesadaran bahwa Gunung Merapi memiliki kodrat untuk meletus. Kesadaran inilah yang menghendaki kita mampu berpikir agar kodrat Gunung Merapi yang meletus itu tak lagi menimbulkan dampak keprihatinan bagi masyarakat. Bagaimana caranya? Perubahan pandangan dan perilaku masyarakat tentang Gunung Merapi dan kreasi teknologi mungkin bisa dilakukan. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Nopember 19th, 2010 at 00:03 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Sepekan setelah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) UNY 2010 berakhir pada Jum’at (6/8) lalu, Rema Post kembali terbit dengan ribuan eksemplar. Sejumlah 10.000 eksemplar Rema Post mewarnai kampus UNY mulai Jumat (13/8) petang. Diterbitkan Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM REMA) UNY, Rema Post edisi 9/Tahun IV/Agustus 2010 ini akan terus beredar dalam beberapa hari ke depan.

rema

Dalam terbitan 10.000 eksemplar ini, Rema Post menghadirkan berita utama mengenai Emotional Spiritual Quotient (ESQ) di UNY. Terkait training ESQ yang telah dilaksanakan berkali-kali di UNY sejak posisi rektor dijabat almarhum Sugeng Mardiyono, Rema Post memaparkan pernyataan Pembantu Rektor I UNY dan Pembantu Rektor III UNY. Nurfina Aznam selaku Pembantu Rektor I UNY menuturkan, “Latar belakangnya adalah pada waktu itu Ary Ginanjar merupakan tokoh yang berperan dalam membangun karakter anak bangsa. Sementara itu, visi UNY adalah bernurani, cendekia, dan mandiri. UNY menyiapkan anak didik sesuai dengan visi. Maka, diadakanlah ESQ untuk membangun karakter anak didik guna tercapainya visi UNY.” Tak jauh berbeda dengan pernyataan Herminarto Sofyan selaku Pembantu Rektor III UNY bahwa ESQ sudah menjadi program utama UNY untuk mencapai visi dan misi UNY.

Pelaksanaan training ESQ yang wajib diikuti mahasiswa dan dosen UNY ini memberikan dampak sebagaimana dipaparkan dalam pemberitaan Rema Post yang terbit 10.000 eksemplar ini. Avi Raharjo, mahasiswa angkatan 2009, mengatakan, “ESQ sangat penting untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan spiritual bagi mahasiswa baru sehingga diharapkan ketika kuliah tidak sekadar cerdas intelektual, tapi juga emosional dan spiritual. Selain itu, banyak sekali manfaat yang diperoleh, mulai dari ilmu sampai teman. Tapi, yang terpenting adalah training ESQ dapat membuka mata hati kita, membebaskan kita dari belenggu-belenggu yang selama ini membatasi kita, yang membuat kita tuli dari bisikan Ilahi. Menjadikan manusia sesuai dengan fitrahnya.”

45

Dalam berita utama Rema Post yang disusun Imaroh Syahida dengan judul ESQ, Menguatkan Pondasi Pendidikan Karakter, Nurfina Aznam selaku Pembantu Rektor I UNY juga mengakui kebermanfaatannya. Dikatakan beliau, “Kita menjadi tahu akan terjadinya alam semesta ini. Dibuktikannya kebenaran teori Big Bang (teori terbentuknya alam semesta). Selain itu juga terdapat kaitan erat dengan makna profetik yang di dalamnya disampaikan kisah-kisah para Nabi.” Laela Mukaromah, mahasiswa UNY angkatan 2010, berpendapat, “ESQ sebagai training emosi dan spiritual menurut saya cukup penting, walaupun tidak menjamin secara langsung bahwa karakter diri kita akan langsung sempurna selesai ESQ, namun menjadi salah satu jalan agar kita bisa memahami diri kita. Karakter profetik tidaklah mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.”

Dikatakan Nurfina Aznam, sebagaimana tertera dalam Rema Post yang terbit sebanyak 10.000 eksemplar ini, training ESQ dahulu diikuti muslim maupun nonmuslim, tetapi tahun kemarin (baca: 2009) training untuk mahasiswa nonmuslim dipisah. Bahkan, Fika Enggar Prayogo, mahasiswa UNY angkatan 2007, memberikan pernyataan dalam Rema Post bahwa ESQ bukan pelatihan agama, tapi pelatihan suimber daya manusia. “Nilai-nilai positif yang diajarkan dalam ESQ adalah nilai universal yang mestinya dimiliki semua orang untuk kebaikan bersama,” tutur Fika Enggar Prayogo yang merupakan alumni ESQ ini. Dalam berita utama Rema Post, Dhariska, mahasiswa UNY angkatan 2007, berkata, “ESQ penting karena melihat kondisi saat ini kita perlu dibekali kemampuan pengendalian emosi. Ini merupakan usaha mewujudkan mahasiswa yang bernurani. Tentu tidak berhenti di ESQ saja, tetapi perlu terus ada pendampingan-pendampingan untuk membentuk karakter yang baik.”

Dalam penerbitan Rema Post sejumlah 10.000 eksemplar ini juga menampilkan artikel opini dari Ahmad el-Pena dengan judul Puasa Profetik!. Ada pernyataan menarik dalam artikel itu, “Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia.” Dalam artikelnya, Ahmad el-Pena mengatakan, “Puasa bernafaskan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan puasa profetik, kita menyadari perlunya mengambil peran sejarah meneruskan jejak para Nabi. Hal ini bukan berarti kita akan menjadi Nabi. Kita jelas bukan Nabi dan kita takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, kita harus menyadari adanya misi profetik yang terletak di pundak kita dalam membangun kehidupan.”

Dengan terbit 4 halaman sebanyak 10.000 eksemplar, Rema Post edisi 9/Tahun IV/Agustus 2010 menyuguhkan perihal training ESQ yang telah menjadi program utama UNY. Sebagai salah satu media kampus, Rema Post berusaha menjadi mitra kritis konstruktif UNY dalam usahanya mengimplementasikan pendidikan profetik untuk—sebagaimana visi UNY—membangun insan bernurani, cendekia, dan mandiri.

Agustus 15th, 2010 at 01:37 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

ORIENTASI Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) Universitas Negeri Yogyakarta 2010 mengusung tema Implementasi Pendidikan Profetik Menuju Generasi Bernurani, Cendekia, dan Mandiri”. Sebagai media kampus di UNY, Rema Post turut menggemakan tema itu dalam setiap penerbitannya di Ospek UNY 2010. Selama lima hari pelaksanaan Ospek UNY 2010, Rema Post terbit setiap hari.

Pada hari keempat Ospek UNY 2010, Kamis (5/8), Rema Post menampilkan sajak yang menarik untuk kita hayati. Barisan kalimat dalam sajak berjudul “Menuju satu titik” tertera dalam halaman 4 yang juga untuk menggambarkan berita foto di sebelah kirinya. Keterangan dalam berita foto itu tertulis, “Peserta Ospek UNY 2010 tetap melaksanakan shalat berjama’ah di tengah hiruk-pikuk berbagai kegiatan, meskipun di tempat seadanya.”
4
Berikut sajak “Menuju satu titik”:

“Menuju satu titik”

DIA tidak melihat siapa

kamu,

dari arah pusaran mana

kau datang

Dan di tempat seperti apa.

yang akan DIA lihat adalah

apa yang kau niatkan

dengan ketundukan itu

Indonesia butuh profetik

untuk menuju satu titik

Apa yang kita hayati dari barisan kalimat di atas? Apa yang kita rasakan?

Membaca Rema Post edisi khusus Ospek UNY 2010 yang terbit pada Kamis (5/8), ada sajak “Menuju satu titik” yang menyentuh kesadaran kita. Ketika membacanya, kita pun seolah-olah diajak merenungkan kalimat “Indonesia butuh profetik untuk menuju satu titik”. Adakah kita merenung?

(Hendra Sugiantoro)

Agustus 8th, 2010 at 13:10 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

ORIENTASI Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) Universitas Negeri Yogyakarta 2010 mengambil tema “Implementasi Pendidikan Profetik Menuju Generasi Bernurani, Cendekia, dan Mandiri”. Tema Ospek universitas ini memang menjadi tema sentral dan diikuti oleh masing-masing fakultas yang ada di UNY. Masing-masing fakultas merumuskan tema tersendiri sesuai karakteristik fakultas dengan tetap berbingkai pada tema utama.

57-300x233

Sebagaimana diberitakan Rema Post edisi khusus Ospek UNY 2010 yang terbit pada Kamis (5/8), fakultas-fakultas di UNY membingkai tema Ospek fakultas dengan PROFETIK. Sebut saja misalnya Ospek Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY yang mengusung tema “Internalisasi Pendidikan Profetik Melalui Kampus Inspiratif untuk Membentuk Mahasiswa yang Bernurani, Intelektual, dan Kontributif”. Begitu juga dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY dan fakultas lainnya. Dalam berita reportase Rema Post yang disusun Muhammad Azka Ramadhan disebutkan bahwa profetik juga menjadi tema dalam Ospek jurusan.

Rema Post edisi khusus Ospek UNY 2010 yang terbit pada Kamis (5/8) juga menurunkan artikel dari Epi Suhaepi. Epi Suhaepi menuturkan, “Konsep profetik dalam Ospek merupakan respons solutif dari fenomena pendidikan yang tidak mempunyai ruh yang jelas. Kalau dulu konsep manusia yang sering dibanggakan adalah manusia yang cerdas, yang memiliki intelektual tinggi dan bisa membuat berbagai macam teknologi, maka paradigma baru adalah munculnya konsep pendidikan yang bermuara pada manusia yang bukan hanya cerdas, tapi juga harus ”dipinangkan” dengan suatu sikap nyata yang kita namakan karakter.” Dikatakan Mahasiswa FISE UNY itu bahwa kita harus mendudukkan dengan tegas karakter seperti apa yang diharapkan menjadi ruh dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam kehidupan kampus. Ruh yang dimaksud adalah profetik.

Mungkin muncul pertanyaan, apakah istilah profetik bergema di UNY hanya pada saat ini? Sejak kapan UNY menggemakan istilah profetik? Jika ditelisik ke belakang, penggunaan profetik dalam tema Ospek di UNY sebenarnya bukan hanya terjadi pada tahun ini. Bertahun-tahun lalu pendidikan profetik telah diusung dan menjadi wacana di kampus yang kini dipimpin Rachmat Wahab. Ospek sebagai pintu gerbang mahasiswa baru UNY angkatan 2010 menjadi momentum tepat mengenalkan dan membangun kesadaran terhadap hakikat dan makna pendidikan profetik. Pada Ospek tahun berikutnya, profetik tetap akan diusung. Visi UNY untuk membangun insan yang bernurani, cendekia, dan mandiri menemukan relevansinya dengan konsep pendidikan profetik. Malah bisa dikatakan bahwa profetik telah menjadi milik UNY. Maka, tidaklah heran jika terdengar suara: UNY, Kampus Profetik!(Hendra Sugiantoro)
3

Agustus 8th, 2010 at 12:56 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

Pelaksanaan orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek) UNY 2010 hari kedua berlangsung di Gedung Olah Raga (GOR) UNY, Selasa (3/8). Mahasiswa baru angkatan 2010 menyaksikan display masing-masing unit kegiatan mahasiswa (UKM) tingkat universitas yang terdapat di UNY. Dalam pelaksanaan Ospek hari kedua ini, PROGRESS kembali terbit dengan edisi khususnya menyapa ribuan mahasiswa baru.

Lewat reportasenya, PROGRESS memberitakan pelaksanaan Ospek UNY 2010 pada hari pertama. Mahasiswa baru 2010 yang menyaksikan display UKM pun seperti diingatkan kembali dengan apa yang terjadi sehari sebelumnya. PROGRESS memberitakan bahwa pelaksanaan Ospek UNY 2010 pada hari pertama lebih menekankan pada materi dan pengenalan kampus UNY dari kalangan birokrasi. Motivasi-motivasi diberikan kepada mahasiswa baru 2010 untuk dapat memanfaatkan waktu studinya dengan baik. Dalam menjalani waktu studi, mahasiswa baru juga diharapkan tidak hanya mengukir prestasi di bidang akademik saja, tetapi juga dalam berorganisasi. Selain penyampaian materi, Ospek UNY 2010 hari pertama juga menampilkan display BEM REMA UNY, BEM tiap fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat fakultas. Orasi dari Presiden BEM REMA UNY dan Ketua BEM masing-masing fakultas mengisi agenda Ospek UNY 2010 pada hari pertama.

Tak kalah menarik, PROGRESS melaporkan bahwa pada hari pertama Ospek UNY 2010 telah dibacakan keputusan Rektor UNY. Keputusan Rektor UNY itu menyebutkan bahwa mulai semester gasal tahun akademik 2010/2011 tidak ada proses perkuliahan yang berlangsung pada pukul 12:00-13:00. Pada jam-jam tersebut digunakan untuk istirahat, shalat, dan makan.
dsc02864
Sembari menyaksikan display UKM tingkat universitas di UNY, mahasiswa baru juga dapat membaca artikel yang ditulis Imaroh Syahida pada halaman 3 dan 4. Artikel berjudul Perkokoh Profetik dengan Mengekspresikannya menegaskan untuk bersama-sama menerapkan nilai-nilai profetik di kampus UNY. Ospek UNY 2010 yang bertema Implentasi Pendidikan Profetik Menuju Generasi Bernurani, Cendekia, dan Mandiri memang sebagai titik awal membangun kesadaran dan pemahaman.

Pelaksanaan Ospek hari kedua usai dengan berakhirnya display setiap UKM di UNY. PROGRESS ada di tangan mahasiswa baru UNY angkatan 2010. Mahasiswa baru pun merenungkan kalimat “Ekspresikan karakter profetikmu” yang tertera pada halaman 3 PROGRESS. Karakter profetikku, profetikmu, profetik kita. Dari UNY untuk Jogja menuju kebangunan Indonesia dengan karakter profetik, begitulah maknanya

Agustus 4th, 2010 at 08:02 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink

dsc02799

Orientasi studi dan pengenalan kampus atau biasa disingkat Ospek digelar Universitas Negeri Yogyakarta mulai Senin (2/8). Pelaksanaan Ospek UNY 2010 ini berakhir Jum’at (6/8). Pada hari pertama pelaksanaan Ospek, Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah Al-Mujahidin UNY menerbitkan PROGRESS edisi khusus. PROGRESS tampil dengan 4 halaman terdiri dari berita liputan dan satu artikel opini.
dsc02785
Dalam berita liputannya, Ospek tampak masih dianggap penting bagi mahasiswa. Ospek penting untuk mengenalkan kampus ke mahasiswa baru, tapi perlu menghindari hal-hal yang tidak mendidik, seperti perploncoan. Dalam salah satu alinea, PROGRESS menulis, “Memang agenda Ospek sering kali digunakan untuk melatih sensitifitas jiwa sosial mahasiswa baru. Salah satunya dengan penugasan yang akan dikumpulkan panitia untuk disumbangkan dalam kegiatan bakti sosial. Jadi, bukan hanya agar mahasiswa tahu di mana tempat parkir, masjid atau perpustakaan. Meskipun diagendakan pula kegiatan menjelajahi kampus oleh beberapa fakultas.”

Ospek yang merupakan tradisi tahunan di kampus tentu memiliki persiapan matang. Di UNY, pada hari pertama digelar Ospek universitas di Gedung Olah Raga (GOR) UNY, dilanjutkan hari kedua dengan display Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pada hari ketiga sampai hari kelima dilaksanakan Ospef fakultas. PROGRESS menuliskan, “Demi kelancaran saat hari pelaksanaan setiap fakultas mengadakan technical meeting (TM). Tujuannya adalah mempertemukan peserta dengan panitia pelaksana dan memberikan pengarahan seputar hari pelaksanaan. Salah satunya Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA) yang mengadakan agenda pra-Ospek bertajuk MIPA goes to GOR. Diadakan Sabtu (31/7) di halaman barat Masjid Al-Mujahidin.”

PROGRESS edisi khusus Ospek UNY 2010 bisa dikatakan tampil lain. Bertindak sebagai pemimpin umum adalah Ayip Miftahuddin. Pemimpin redaksi dipegang Faidatul Hasanah. Adapun Siti Nur Aeni sebagai editor. Untuk dapat menghadirkan PROGRESS dalam setiap pelaksanaan Ospek, kerja keras tentu dibutuhkan tim redaksi.

Pada halaman 3 dan 4, PROGRESS menampilkan tulisan Pidi Winata berjudul Pendidikan Karakter, Mungkinkah Terwujud? Secara garis besar, opini Pidi Winata menekankan pada sisi implementasi pendidikan karakter, termasuk pula implementasi pendidikan karakter di kampus UNY. Dari identitas Pidi Winata, tertera aktif sebagai trainer muda Profetika Training Center sekaligus sebagai pengelola Rumah Prestasi BINA INSAN MUDA CENDEKIA Yogyakarta.

Ada kalimat menarik dalam penerbitan PROGRESS edisi khusus Ospek ini, “BANGUN INDONESIA MADANI DARI KAMPUS BERNURANI”

HENDRA SUGIANTORO

Agustus 3rd, 2010 at 07:58 | Comments & Trackbacks (0) | Permalink